The Godfather (1972)

ggg
Sinopsis Film TheGodfather (1972)
       Bercerita tentang keluarga Don Vito Corleone,pria pemurah yang tak kenal ampun dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan.. Vito Corleone (Marlon Brando) adalah  kepala keluarga. Vito memiliki empat orang anak yaitu Santino alias Sonny, Fredo, Michael (Al Pacino), dan Connie Corleone. Keluarga Corleone adalah salah satu keluarga mafia Italia yang tinggal di Amerika.
Godfather adalah pria yang “logis” dan adil. Ia memimpin mafia yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal, perjudian, taruhan pacuan kuda, dan serikat buruh.Ia memberikan persahabatannya tanpa ada yang berani menolak, serta menentukan mana yang benar dan salah. Menurutnya, pembunuhan halal dilakukan demi keadlian.
Keluaga mafia sedang mengalami perang dingin yang menyebabkan terjadi perang antar geng. Sampai suatu ketika, perang dingin ini membuat vito tertembak.Kondisi Vito yang sedang sakit membuat Sonny sebagai anak pertama mengambil alih posisi kepala keluarga. Namun, Sonny yang tempramental tidak mampu memimpin dengan baik. Michael yang oleh anggota keluarga yang lain dianggap sebagai yang paling pendiam, akhirnya berinisiatif membunuh salah satu Kepala keluarga genk lain yang menyebabkan dia akhirnya diasingkan ke Italia selama setahun. Mulai lah karakter Michael terbentuk. Di sana Ia sempat menikah dengan perempuan setempat. Saat pengasingannya, Sonny terbunuh.
Setelah setahun berlalu Vito mengumumkan kalau Michael lah kepala keluarga selanjutnya.Hingga akhirnya, Vito pun meninggal. Setelah kematian ayahnya Michael lalu membalas dendam dengan membunuh seluruh kepala keluarga mafia yang dulu bertikai dengan ayahnya dan membunuh pembunuh kakaknya.
Film ini sangat bagus dalam pencitraan tokoh dan pengeplotan ceritanya.. So, tentunya ini adalah film yang recomended buat ditonton. Tapi untuk dewasa ya.. Soalnya banyak adegan yang mungkin kurang pantas dilihat anak di bawah umur..

American Psycho (2000)

Jual Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

American Psycho (2000)

Film ini ternyata diangkat dari sebuah novel karya Bret Easton Ellis berjudul sama dan dirilis tahun 1991, 9 tahun sebelum filmnya dirilis. American Psycho diangkat ke layar lebar oleh Mary Haron, seorang sineas wanita yang memiliki filmografi I Shot Andy Warhol danThe Notorious Betty Page selain American Pscyho. Entah apakah Elli

 

s ini mendapat inspirasi dari film klasik Hitchcock, Psycho atau tidak, tapi tokoh utama dalam film ini Patrick Bateman memiliki nama belakang yang mirip dengan karakter sentral dalam film Psycho, Norman Bates. Mungkin memang ingin menunjukkan kesamaan dengan Norman Bates. Hayoo ati-ati ya deket2 orang bernama belakang ada Bate2nya.

Seperti apa yang gw sebut dalam review The Elephant Man beberapa minggu yang lalu: don’t judge a book by its cover. Kalo sekarang sih keadaanya 180 derajat. Patrick Bateman benar-benar terlihat sempurna, tetapi nyatanya dibalik semua itu, ada monster gila didalamnya. Christian Bale bermain dengan sangat baik disini, salah satu (atau mungkin yang terbaik) penampilan terbaiknya. Pemeran lain termasuk artis-artis yang lumayan dikenal ada Jared Leto sebagai Paul Allen yang sekarang lebih dikenal sebagai frontman band 30 Seconds To Mars, Willem Dafoe sebagai detektif yang menginvestigasi hilangnya Paul Allen serta Reese Witherspoon sebagai tunangan Bateman. Semua menurut gw bermain lumayan, walaupun masih ditutupi oleh bayang-bayang Bale. Sejak awal memang ini adalah filmnya.
Apa yang menjadi film ini semakin ‘sakit’ adalah betapa banyaknya unsur komedi satir dalam film ini. Jujur, gw tidak pernya menyangka banyak sindiran-sindiran halus yang menurut gw pintar, lucu, offensive (for some people) di saat yang bersamaan. Film ini memang mostly nge-mock orang-orang yang kayaknya sangat mengagungkan penampilan atau outer look. Atau narcissism. Yah sangat tercermin dengan tokoh Bateman sendiri. Ada satu dialog yang gak bikin gw ketawa-ketawa ingetnya, ketika seorang PSK yang hendak melarikan diri dari kejaran Bateman dan dengan kuatnya menendang muka Bateman. Reaksi Bateman? “Not in the faceee!!!”. LOL. Atau ketika adegan-adegan awal film ini, dimana Bateman menarasikan bagaimana ia melewati pagi hari. Olahraga kecil-kecilan serta semua peralatan-peralatan kecantikan yang ia pakai, mulai sabun, shampoo, lotion, masker yang jumlahnya banyaaaak banget.
Selain itu, film ini juga menyinggung tentang hubungan sosial. Bagaimana ‘recognition’ oleh para peer2 itu sangatlah penting. Patrick Bateman sebenarnya tidak perlu lagi bekerja toh ayahnya adalah pemilik perusahaan. Tetapi alasannya bekerja adalah untuk ‘fit-in’. Lalu salah satu hal yang disinggung film ini adalah identitas. Selain masalah mengenai identitas asli Patrick Bateman, dalam film ini sering terjadi adanya salah mengira. Atau pun berpura-pura menjadi orang lain. Patrick Bateman sendiri selain berpura-pura menjadi seorang ‘baik’, sering disalahkirakan oleh rekan kerjanya, Paul Allen ataupun pengacaranya, mostly karena orang-orang disekitarnya terlihat identik, mulai dari style sampai kerjaan. See? Sindiran lagi.
SPOILERS AHEAD, BEWARE Film ini diakhiri dengan sebuah konklusi terbuka. Ellis maupun sang penulis naskah sekaligus sutradara, Haron, sendiri tidak pernah menjabarkan apakah sebenarnya semua yang digambarkan oleh Bateman itu adalah benar-benar nyata atau semuanya hanyalah termasuk halusinasi twisted milik Bateman sendiri. Kejanggalan demi kejanggalan yang kita temui di pengujung akhir juga sulit untuk dijadikan jawaban atas semua kegilaan dalam film ini. Misalnya adalah apartemen kosong yang Bateman jadikan tempat mayat kok tiba-tiba jadi bersih dan malah hendak disewakan. Kalo memang ia menghalusinasi semua pembunuhan, terus siapa sebenarnya wanita yang menjual apartemen tersebut, kenapa ia bertingkah aneh dan mengapa catnya masih baru? SPOILERS END.
American Psycho itu film sakit. Jelas bukan untuk siapa saja. Coba kita lihat; adegan bunuh-bunuhan sadis? Ada (walaupun gak ditampilkan terang-terangan). Adegan threesome dan sedikit full frontal nude? Ada. Penyiksaan binatang? Ada juga. Memang tidak separah film-film sejenis, tapi tetap saja film ini masih bisa dibilang ‘sakit’. Tapi ternyata film ini memiliki unsur cerita yang cukup solid, sindiran-sindiran tentang obsesi manusia dengan kesempurnaan, strata, hubungan kita dengan sekitar dan sifat kenarsisan dalam manusia. Dari film ini, Christian Bale menunjukkan performa akting yang luar biasa. Dia seharusnya menang Oscar dari perannya disini. Overall, great film.

Gone with the Wind ( 1939 )

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

    Film ini adalah salah satu film klasik yang menjadi tolak ukur sinema amerika, sebuah epik kesayangan hollywood yang judulnya paling sering ditemukan dalam top list apapun di berbagai movie sites, majalah di seluruh dunia.
Gone with the Wind, merupakan contoh kolaborasi besar yang melibatkan ratusan pekerja yang ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Lusinan crew dan penulis naskah yang digonta ganti, proses pemilihan bintang utama yang begitu menyedot waktu dan biaya besar, konflik perpindahan kursi sutradara  hingga permainan bisnis studio besar jaman itu berhasil dihadapi oleh sang produser, David O’Selznick yang kabarnya mengkomandani proyek film ini dengan tangan besi.

Diangkat dari sebuah novel berjudul sama karangan Margaret Mitchell tahun 1936. Tahun depannya, Mitchell meraih Pulitzer dari satu-satunya novel yang pernah ditulisnya dan tiga tahun setelah rilisnya novel itu, 1939, filmnya dirilis dan menciptakan sejarah. Selznick membeli hak untuk memfilmkan novelnya sebesar $50,000 atas dorongan teman temannya. Studio besar waktu itu semacam, MGM dan RKO ironisnya sama sekali tidak tertarik membuat GWTW.
Victor Fleming ditunjuk sebagai sutradara menggantikan George Cukor, yang kabarnya dipecat Selznick karena konflik personal. Tahun 1939 adalah puncak keemasan bagi karier Flemming. Filmnya yang lain yang dirilis di tahun yang sama, The Wizard of Oz juga menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah sinema amerika.
Dalam jajaran pemain utama, Clark Gable yang saat itu merupakan anak emas hollywood mengisi peran Rhett Butler . Proses Selznick mendapatkan Clark Gable dari tangan MGM ( studio yang menaugi sang aktor ) pun tidak lah mudah, berbagai negosiasi alot pun dilakukan Selznick kepada para petinggi MGM. Untuk peran Scarlett O’Harra sendiri, Selznick turun tangan langsung mengaudisi ribuan aktris wanita secara random hingga akhirnya memangkas nya menjadi dua antara Paulette Goddard dan Vivian Leigh.

Film ini lebih mengisahkan konflik (dan cinta) antara empat karakter sentral, Rhett Buttler (Clark Gable), Scarlett O’Hara (Viven Leigh),Melanie Hamilton (Olivia DeHaviiland), Ashley Wilkes (Leslie Howard),  dengan latar Tara, Atlanta dan daerah selatan di masa sebelum dan sesudah perang sipil yang berkecamuk di amerika antara tahun 1861–1865.
Scarlett adalah sosok wanita cantik yang digambarkan manja, egois, sinis dan agak liar. Scarlett sebenarnya bisa saja mendapatkan lelaki manapun saat itu, tapi ia lebih memilih untuk mengejar ngejar ( dan agak mempermalukan dirinya sendiri ) Ashley Wilkes, yang pada saat itu merupakan tunangan sepupunya, Melanie Hamilton. Nah, di tengah konflik cinta segitiga itu muncullah pria yang terusir dari kampung halamannya dan merupakan veteran perang, Rhett Butler. hehe..yang pernah menonton GWTW pasti hafal dengan senyuman maut Rhett Butler yang ditujukan kepada Scarlett pertama kali dari bawah tangga, seolah olah senyumannya sanggup merobek pakaian Scarlett.

Jika diperhatikan, Scarlett dan Rhett sebenarnya hampir memiliki sifat yang sama. Scarlett bukanlah wanita polos yang berhati baik, tapi lebih ke suka mempermainkan hati para lelaki dan mempermainkan nafsu seksual mereka dengan kecantikannya ( termasuk hati para lelaki berpasangan ). Rhett sendiri terkenal arrogan, sombong, egois, kurang ajar dan suka bersikap masa bodoh, dan juga seorang jutawan dan penakluk wanita. Karisma dan pesona Rhett berhadapan dengan gairah dan kecantikan Scarlett menjadikan mereka sangat pantas berhadapan satu sama lain, mereka sama sama mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan jenis.

Selain 2 dari 4 karakter sentral di film ini, Ashley Wilkes, yang dari awal dikejar kejar oleh Scarlett, juga sebenarnya bukanlah Lelaki sempurna , ia bukanlah prince charming yang bijak dan tentunya ia masih seorang pria yang digambarkan masih berkeinginan selingkuh tapi masih belum yakin dan kesetiaannya terhadap sang istri sekaligus sepupunya, Melanie masih terlalu kuat baginya untuk disia siakan. Sedangkan Melanie sendiri, merupakan kebalikan dari Scarlett, ia tergambarkan sebagai gadis yang rapuh, lemah, polos, bodoh dan terlihat sok baik ( walau sebenarnya ia memang baik ), mungkin kepolosan dan sikapnya yang plin plan lah yang membuatnya terlihat bodoh.
Ashley mungkin saja pada awalnya jatuh hati kepada Melanie karena hal ini, dan kebalikan juga terhadap banyak pria yang terpesona dengan gairah dan kecantikan Scarlett, well.., mungkin kecuali Rhett yang sering mengucapkan kata kata menusuk dan menyinggung perasaan Scarlett. Di mata Rhett, Scarlett adalah wanita yang sangat menarik untuk dikencani, tapi tidak untuk dinikahi.

Berkecamuk perang sipil di seantereo amerika, kekalahan terjadi bagi Tara, Atlanta, Tara hanya damai untuk sementara. Tanah yang awalnya subur sekarang merah membara dan tandus, dan perlu dikerjakan dari nol untuk membuatnya kembali subur yang merupakan mata pencarian sebagian besar penduduk Tara. Tara tidak pernah sama lagi.
Di tengah kondisi sulit itu, Menikahnya Scarlett dan Rhett Butler, bukan merupakan hal yang diidam idamkan siapapun, dan tentu tidak menyelesaikan masalah apapun yang sedang menimpa keduanya. Rhett dengan kepribadiannya yang egois hanya menginginkan keturunan dan kesenangan dari Scarlett, begitu juga Scarlett yang hanya tertarik dengan uang dan kekayaan Rhett.
Scarlett  menunjukkan sebuah perubahan besar dalam dirinya dari awal film, pertengahan, hingg akhir. Yang awalnya membenci perang sebagaimana wanita lainnya, keadaan memaksanya menjadi tegar menerima kenyataan hidup dan rela bekerja kasar. Ya tentu bukan alasan sentimentil, dia hanya tak ingin hidup miskin lagi.

Film ini memenangkan 8 dari 13 nominasi oscar saat itu, termasuk Best Picture 1939. Kerja keras David O’Selznick untuk film ini terbayar tuntas dengan berjaya nya film ini baik secara kualitas maupun komersil. Ceritanya yang realistis ikut memberikan pesona bagi film in i. Ini bukanlah sebuah dongeng cinta yang penuh khayalan. Jajaran aktor dan aktris di film ini yang terlihat sangat jujur dalam aktingnya, Chemistry antara Rhett dan Scarlett  (yang seharusnya menjadi jualan utama di sebuah film romantis), juga bukan Chemistry terkuat on screen yang pernah ada. Untuk menghindari kesalah pahaman seperti itu, perlu kita ketahui, film ini bukanlah sebuah film komedi romantis sepenuhnya, film ini sudah jauh keatas meninggalkan genre sederhana seperti komedi romantis.

Kisah epik ini terlalu sederhana jika dijelaskan melaui resensi singkat. Durasi film yang sebanyak 238 menit ( hampir 4 jam.!!) yang diangkat dari novel setebal 1.037 halaman ini bahkan jika dibahas secara mendetail akan butuh berhari hari. Kompleksitas cerita dan karakter, latar perang sipil yang berkecamuk saat itu, belum lagi perubahan ke 4 karakter sentral tersebut sepanjang film dan kondisi keadaan sekitar yang digambarkan dengan detail, padat dan bermakna. Berbeda saya melihatnya dengan film film sekarang yang banyak memakan durasi dengan banyak adegan kosong melompong. Salah satu yang menjadi kecintaan saya terhadap film klasik adalah cara penceritaannya yang begitu detail dan padat walau dengan durasi yang tidak terlalu lama, tapi setelah selesai menyaksikan nya, saya mendapat sebuah kepuasan besar dari segala sisi.

Bertahun tahun mendatang, Film ini akan selalu menjadi salah satu contoh bukti kebesaran sinema amerika dan betapa nyata terciptanya mahakarya dari tangan ratusan pekerja di sebuah era dimana keterbatasan teknologi tidak pernah menjadi hambatan untuk menciptakan sebuah karya seni yang luar biasa. Layaknya waktu yang terus berjalan, everything Gone with the wind, all right – gone, but never forgotten.

Segera dapatkan Film Lama, Film Jadul, Film Langka, Film Lawas, Film Klasik Favorit anda…!!!

***********************************
Sumber: http://mecail2012.blogspot.com/2012/09/review-gone-with-wind-1939.html

The Accused (1988)

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Mungkin seorang Tom Topor sebagai penulis cerita tertarik ketika menilik fenomena di atas, sehingga nasib naas yang dia ciptakan untuk karakter Sarah begitu molek bercerita. Malam itu, Sarah Tobias keluar dari sebuah bar dengan teriakan histeris, langkah kakinya dilarikan sekuat tenaga, sementara baju yang dikenakannya tampak robek compang camping sehingga memamerkan buah dadanya. Naas bagi Sarah, dirinya diperkosa oleh tiga pemuda di bar itu dan lucunya lagi orang-orang yang menyaksikan adegan pemerkosan itu malah menyoraki dan membiarkan peristiwa itu terjadi, bak tontonan film porno gratis bagi mereka. Tak ada yang membantu Sarah yang lemah digauli di atas meja permainan poker itu.

Alkisah pun bergulir kedalam semangat Sarah yang ingin menuntut keadilan. Maka Katherine (Kelly McGillis) selaku jaksa penuntut umum dalam kasusnya berusaha mewujudkan keinginan Sarah tersebut. Tentunya itu tak semulus yang dibayangkan, banyak konflik internal maupun eksternal mengacaukan jalan Katharine dan Sarah. Katharine tertampar oleh kasus Sarah yang tak pelak menguji kredibilitasnya sebagai jaksa dan menguak sisi emosionalnya untuk peduli kepada sosok Sarah. Sementara Sarah hidup dalam situasi psikologis yang kompleks pasca pemerkosaan naas itu, dirinya seakan kehilangan identitas. Disinilah kedua karakter ini menjalin kekuatan emosional yang mampu merasuki visualisasi penonton.

Sang sutradara, Jonathan Kaplan seringkali mengantarkan kita ke sisi lain plot yang dianggapnya mampu untuk sedikit membuka rasa penasaran kita akan kasus Sarah. Rasanya itu tak begitu berhasil, Karena drama pemerkosaan ini tak mampu sedikit pun meluncurkan sisi misteriusnya. Malah cenderung kurang jenius dan pengeksekusian akhir cerita yang sangat klise. Tengok bagaimana cerita dibuat bimbang dengan beberapa kesaksian yang kadangkala memenangkan Sarah ataupun turut menyudutkan tingkah lakunya dalam tragedi pemerkosaaanya itu. Letupan-letupan misteri seakan dipaksakan yang berujung tak mampu untuk memaksimalkan klimaks cerita. Beberapa bukti yang sudah dipegang rapat di mulut  Sarah dari awal cerita sengaja dicari-cari kelemahannya sehingga kebenaran pun sengaja diperlambat sampai pada akhirnya dibeberkan secara visualisasi flashback di hadapan pengadilan. Setidaknya Kaplan sukses membawa para aktornya merasuk kedalam plot-plot yang kian problematik dan emosional.

Namun, beruntunglah The Accused memiliki Jodie Foster dan Kelly McGillis yang gigih dalam menonjolkan karakter mereka masing-masing. Untuk penonton generasi kini mungkin tak doyan menyaksikan film jadul ini kalo tidak ada sosok Jodie Foster yang memberikan magnet maha-dahsyat pada karakter Sarah Tobias. Sebuah patung Oscar mengganjar peforma Foster yang begitu brilian mengeksplor sisi emosional seorang wanita yang terjebak dalam drama pemerkosaan biadab. Begitu biadab karena dirinya digilir oleh tiga lelaki sementara pengunjung bar di sekitarnya sibuk menyemangati para lelaki pemerkosa itu untuk menunjukkan ‘keperkasaan’ mereka. Di sisi lain, karakter Sarah ini juga memberikan imej sebagai gadis ‘gampangan’ yang kerap mengisap ganja, ahli meneguk berbotol-botol bir, serta si seksi yang bernasib sial. Disinilah penonton diajak untuk memilih antara acuh tak acuh atau prihatin dengan kejadian Sarah tersebut. Anda pun dapat dengan mudah menerka bakal dikemanakan ending film ini.

Anda Mencari Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Lawas, Film Klasik…??
Silahkan Pesan Film Favorit Anda Sekarang juga…!!!

DVD Film Lama, Film Langka, Film Klasik, Film Jadul, Film Lawas

Lawrence of Arabia (1962)

 

Lawrence of Arabia

Lawrence of Arabia adalah film epik tahun 1962, berdasarkan pada kehidupan T.E. Lawrence. Dibintangi oleh Peter O’Toole sebagai aktor utama, bersama dengan Omar Sharif dan Alec Guinness.

Film Gandhi (1982) mengikuti pola cerita Lawrence: setelah tokoh utamanya meninggal di awal, cerita ini mengalir dengan alur mundur.

Lawrence of Arabia memenangkan 7 Academy Award, salah satunya untuk Gambar Terbaik.

Dianggap sebagai salah satu film terbesar yang pernah dibuat, film ini masuk daftar 100 Years… 100 Movies dari AFI (urutan 5).

Director’s Cut film ini, mengalir 216 menit, tak memiliki tokoh wanita yang berbicara.

Sinopsis Film Lama-Film Jadul-Film Langka-Film Klasik-Film Lawas

Sinopsis  Film Lama-Film Jadul-Film Langka-Film Lawas-Film Klasik

12 Angry Men (1957)

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Director: Sidney Lumet 
Writer: Reginald Rose (story)
Stars: Henry Fonda, Lee J. Cobb, Martin Balsam 

Sinopsis dan alur cerita film 12 Angry Men (1957) 
 Film ini berkisah tentang 12 orang yang tidak saling mengenal, mereka menjadi juri disebuah pengadilan yang mengadili seorang anak yang dituduh membunuh ayahnya sendiri. Lalu, mereka dikurung (kalau boleh disebut dikurung, karena mereka ditempatkan pada sebuah ruangan yang dikunci dari luar) untuk menentukan bersalah atau tidakkah anak tersebut.

Didalam ruangan tersebut mereka lalu melakukan voting yang harus disetujui oleh kedua-belas orang tersebut untuk mendapatkan sebuah keputusan absolut. Tidak disangka-sangka, 11 orang memilih bahwa anak tersebut bersalah, sedangkan seorang lagi mengatakan bahwa anak tersebut tidak bersalah. Ketika ditanya kenapa, dia menjawab “There were eleven votes for guilty. It’s not easy to raise my hand and send a boy die without talking about first.”.

Koleksi Foto Asli Bintang Film Klasik, Film Lama, Film Langka, Film Jadul Hollywood Dilelang

dricebar_e0

Puluhan ribu foto dan negatif film dari koleksi besar foto Hollywood akan dijual selama lelang dua hari di New York bulan depan. Kabar ini diumumkan oleh rumah lelang Guernsey, Senin (25/03).

Koleksi Berita Bintang Film, yang dilakukan juru foto Irving Klaw mulai tahun 1939, mencakup hampir tiga juta poster, negatif film dan foto para bintang.

Mereka yang termasuk di antaranya Marilyn Monroe, James Dean, Rudolph Valentino, Judy Garland, Steve McQueen, Charlie Chaplin, dan Audrey Hepburn.

Kolektor mana yang tak kesengsem dengan keseksian Marylin MonroeKolektor mana yang tak kesengsem dengan keseksian Marylin Monroe

Sekitar 1.900 koleksi foto dan memorabilia film akan dilelang di bawah ketukan palu pada 6-7 April mendatang.

Koleksi Foto Asli Bintang Film Klasik Hollywood Dilelang

Harga pra-penjualan diperkirakan berkisar antara USD 60 100 untuk beberapa foto, atau sampai mencapai USD 10 ribu untuk sepasang sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh model Betty Page, yang dikenal sebagai “Queen of Pin-Ups.”

“Ini mungkin salah satu koleksi terbesar di dunia mengenai foto Hollywood,” kata Joanne Grant, penata arsip dan pelelang di Guernsey yang memperkirakan benda-benda itu bernilai jutaan dolar.

“Penjualan ini adalah semua tentang (cetakan) hitam-putih karena sebagian besar tentang Hollywood dari era 20-an, 30-an, dan 40-an, meskipun Marilyn Monroe adalah dari tahun 1950-an,” kata Grant.

Lelang yang akan digelar di The Galeri Arader itu akan menjadi yang pertama kalinya dalam 75 tahun bahwa arsip lama akan dibuka untuk umum, kata Guernsey.

Koleksinya meliputi tanda tangan Movie Star News dan gambar dari latar belakang film THE WIZARD OF OZ, KING KONG, dan THE GODFATHER serta 600 foto Monroe.

Benda-benda ini dijual oleh Stuart Scheinman, rekan-pemilik Entertainment Collectibles yang berbasis di Las Vegas, yang membeli koleksi itu tahun lalu dari Ira Kramer, keponakan Klaw.

Sumber: http://www.kapanlagi.com/showbiz/film/internasional/koleksi-foto-asli-bintang-film-klasik-hollywood-dilelang-6fdcf6.html

====================================================

Previous Older Entries