2001: A Space Odyssey (1968)

Sinopsis Film Lama, Film Langka, Film Jadul Film Klasik, Film Lawas

 

2001: A Space Odyssey (1968)

2001 A Space Odyssey (1968)

Film pertama Kubrick yang saya tonton justru adalah karya terakhirnya, Eyes Wide Shut (1999), dimana sutradara jenius tersebut meninggal dunia saat masih dalam proses editingnya. (Lihat reviewnya disini). Biarpun film tersebut dibintangi oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman, namun Eyes Wide Shut buat saya tetaplah sebuah film yang non-mainstream, sulit dimengerti dan membuat uring-uringan penonton awam. Tapi, gag kapok-kapok, saya kembali ke film Kubrick yang dirilis beberapa dekade sebelumnya, 2001: A Space Odyssey. Sebuah film yang disebut-sebut sebagai film paling berpengaruh sekaligus kontroversial di genre science-fiction dan juga merupakan masterpiece sutradara tersebut.

2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film tanpa plot. Ataupun kalau plot memang ada dan berjalan maju, maka relevansi antara satu cerita dengan cerita lainnya begitu susah untuk dihubungkan. Makanya saya agak kesulitan untuk menceritakan sinopsis film ini.  Jadi, 2001 : A Space Odyssey dibagi menjadi 4 section. Bagian pertama menceritakan tentang monyet-monyet gag jelas yang tampaknya merupakan asal mula manusia, yang harus hidup dalam ketakutan akan bahaya makhluk buas lain dan suku lainnya. Sampai suatu ketika ada batu monolith hitam dan monyet-monyet itu menyentuhnya. Ajaib, mereka langsung lebih pintar dan kemudian menciptakan benda-benda primitif dari tulang binatang untuk memburu hewan lain. Lalu section kedua, menceritakan Dr. Heywood R. Floyd yang datang ke bulan untuk meneliti tentang batu monolith hitam bersama rekan-rekannya. Section ketiga, menceritakan perjalanan 5 astronot ke Planet Jupiter dimana tiga diantaranya sedang hibernasi. Dua astronot sisanya yakni Dave dan Frank, menemukan adanya kerusakan yang terdeteksi oleh komputer canggih mereka, HAL. Ternyata, kerusakan tersebut tidak ada dan HAL rupanya menjadi komputer yang bisa melakukan kesalahan, sehingga Dave dan Frank berkeinginan untuk mencabut kabel komputer HAL. Karena gag mau kabelnya dicabut, HAL memutuskan untuk membunuh para astronot tersebut. Lalu di section terakhir, Dave telah berada di Jupiter.

Well, ceritanya bener-bener gag jelas, dan satu-satunya yang menghubungkan antar satu section ke section lainnya hanyalah batu monolith yang misterius itu, yang sampai akhir tidak diceritakan maksud batu itu apa.

2001 : A Space Odyssey bagaikan sebuah enigma, teka-teki, seperti sebuah film yang dibuat murni untuk tujuan seni. Absurd, surealis, dengan gambar yang indah, dan bicara dalam bahasa non-verbal. Tidak lugas dan menimbulkan ambiguitas yang tidak terselesaikan. Bahkan dalam wawancaranya, Kubrick memang sengaja membuat film yang ‘aneh’ seperti ini. Biarkan penonton yang menginterpretasikan sendiri, mereka-reka makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya, sedang ia sendiri tidak ingin menunjukkan secara lugas apa yang dimauinya sebagai penulis dan sutradara. Bahkan saya kira Stanley Kubrick sendiri mungkin tidak yakin dengan apa yang dia maksudkan. 2001 : A Space Odyssey, jelas adalah sebuah misteri besar. Sebuah misteri yang bahkan sudah dimulai sejak detik pertamanya, yang cuma memunculkan blank scene dengan efek suara-suara samar-samar lalu kemudian tampak planet dengan cahaya…. This scene is epic!

Menonton 2001 : A Space Odyssey seperti sebuah marathon panjang yang melelahkan, dan saya seperti setengah bermimpi kala menontonnya. Tayangkan ini di bioskop sekarang, dan saya yakin separuh penonton akan dibuat terkantuk-kantuk. Otak jenius Kubrick menghasilkan 2001 : A Space Odyssey begitu minim dengan dialog dengan alur yang terlampau detail sekaligus begitu lamban. Bahkan section pertama dan keempat benar-benar tanpa dialog, penonton cuma disuguhi potongan adegan-adegan tanpa percakapan sama sekali. Sungguh, cerita yang aneh, absurd, gaya penyutradaraan yang totally non-mainstream dan non-konvensional, saya jelas menjadi penonton yang kebingungan dan tidak terpuaskan di akhir tayangan sepanjang 142 menit. Ya, 142 menit jelas sebuah durasi yang terlalu panjang untuk sebuah film dengan cerita yang gag jelas. Atau mungkin otak saya saja yang tidak nyampe.

 

Namun, terlepas dari ambiguitas yang melingkupinya, 2001 : A Space Odyssey jelas merupakan pionir di genre science-fiction. Visual efeknya jelas sangat mengagumkan pada masa tersebut, dan saya terkagum-kagum dengan betapa realistisnya Kubrick membangun detail – detail yang ada. Adegan astronot Frank dalam baju astronotnya yang kuning melayang-layang di angkasa yang gelap dan dalam dalam kesunyian *karena tidak ada udara yang mampu menghantarkan suara*, benar-benar begitu dalam meninggalkan kesan buat saya yang menontonnya. Sungguh, begitu indah secara sinematografis, sekaligus meninggalkan kesan yang sangat menakutkan – saya membayangkan bagaimana rasanya tersesat di alam semesta. Efek yang ditimbulkan benar-benar dramatis dan menimbulkan kesan magis yang gag bisa saya jelaskan. Saya juga menyukai section terakhirnya, saat Dave berada di rumah dan seolah-olah melihat manusia lain, namun ternyata itu dia sendiri. Classicc yet so damn hell creepy!! Efek melayang-layang tanpa gravitasi juga begitu fenomenal dan begitu realistis. Dan scene Stargate yang mengantarkan Kubrick menerima Oscar benar-benar fenomenal, walau saya sebenarnya jadi teringat animasi abstrak yang muncul di Windows Media Player. Begitu pula dengan icon HAL – sebuah benda *entah itu apa* serupa mata komputer buatan bernama HAL yang somehow membuat saya ngeri. (Icon “mata” HAL ini yang saya taruh di judul blog ini). Dan tentu saja, hal lain yang paling memorable adalah penggunaan lagu The Blue Danube waltz by Johann Strauss, dan Also sprach Zarathustra by Richard Strauss yang mengalun begitu megah di tengah lanskap pemandangan luar angkasa. Superb.

Akan tetapi harus diakui kesan futuristiknya memang masih saja terlihat retro. Apalagi kalau melihat potongan rambut yang ada. Beberapa propertinya juga masih terlihat sangat ‘jadul’ dan 60-an. Dan sedikit silly buat saya bagaimana Kubrick menggambarkan masa depan dengan properti yang masih menggunakan fitur tombol untuk ditekan. Mungkin Kubrick masih belum membayangkan bakal ada touchscreen di masa depan. Lol.

Overview:
Kubrick seperti mengajak bermimpi melalui 2001 : A Space Odyssey. Bermimpi menjelajahi alam semesta dan menelusuri filosofi hakikat hidup manusia. Sebuah film yang “cukup” absurd dan melelahkan, menonton film ini juga hanya akan menimbulkan pertanyaan besar. Namun jelas, 2001 : A Space Odyssey adalah sebuah film surealis yang wajib ditonton setiap penggemar film. 2001 : A Space Odyssey, adalah salah satu film terbaik di dunia. Tidak hanya karena visual efeknya yang mengagumkan, namun juga karena sinematografisnya yang luar biasa mengesankan. And that’s why, biarpun hingga akhir film saya dibikin bertanya-tanya, saya memberikan rating 5 untuk film ini. Really, ini tidak hanya menjadi masterpiece seorang Stanley Kubrick, namun juga menjadi mahakarya bagi perfilman dunia.

Memorable Scene:
Adegan kematian Frank. Terapung-apung dengan baju astronot kuningnya di alam semesta yang hitam, kelam, dalam dan dingin dalam kesunyian.
Source: http://nikenbicarafilm.blogspot.com/2011/08/2001-space-odyssey-1968.html
Dapatkan Film Lama. Film Langkam Film Klasik, Film Jadul, Film Lawas favorit anda segera…!!
========================================================

 

American Psycho (2000)

Jual Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

American Psycho (2000)

Film ini ternyata diangkat dari sebuah novel karya Bret Easton Ellis berjudul sama dan dirilis tahun 1991, 9 tahun sebelum filmnya dirilis. American Psycho diangkat ke layar lebar oleh Mary Haron, seorang sineas wanita yang memiliki filmografi I Shot Andy Warhol danThe Notorious Betty Page selain American Pscyho. Entah apakah Elli

 

s ini mendapat inspirasi dari film klasik Hitchcock, Psycho atau tidak, tapi tokoh utama dalam film ini Patrick Bateman memiliki nama belakang yang mirip dengan karakter sentral dalam film Psycho, Norman Bates. Mungkin memang ingin menunjukkan kesamaan dengan Norman Bates. Hayoo ati-ati ya deket2 orang bernama belakang ada Bate2nya.

Seperti apa yang gw sebut dalam review The Elephant Man beberapa minggu yang lalu: don’t judge a book by its cover. Kalo sekarang sih keadaanya 180 derajat. Patrick Bateman benar-benar terlihat sempurna, tetapi nyatanya dibalik semua itu, ada monster gila didalamnya. Christian Bale bermain dengan sangat baik disini, salah satu (atau mungkin yang terbaik) penampilan terbaiknya. Pemeran lain termasuk artis-artis yang lumayan dikenal ada Jared Leto sebagai Paul Allen yang sekarang lebih dikenal sebagai frontman band 30 Seconds To Mars, Willem Dafoe sebagai detektif yang menginvestigasi hilangnya Paul Allen serta Reese Witherspoon sebagai tunangan Bateman. Semua menurut gw bermain lumayan, walaupun masih ditutupi oleh bayang-bayang Bale. Sejak awal memang ini adalah filmnya.
Apa yang menjadi film ini semakin ‘sakit’ adalah betapa banyaknya unsur komedi satir dalam film ini. Jujur, gw tidak pernya menyangka banyak sindiran-sindiran halus yang menurut gw pintar, lucu, offensive (for some people) di saat yang bersamaan. Film ini memang mostly nge-mock orang-orang yang kayaknya sangat mengagungkan penampilan atau outer look. Atau narcissism. Yah sangat tercermin dengan tokoh Bateman sendiri. Ada satu dialog yang gak bikin gw ketawa-ketawa ingetnya, ketika seorang PSK yang hendak melarikan diri dari kejaran Bateman dan dengan kuatnya menendang muka Bateman. Reaksi Bateman? “Not in the faceee!!!”. LOL. Atau ketika adegan-adegan awal film ini, dimana Bateman menarasikan bagaimana ia melewati pagi hari. Olahraga kecil-kecilan serta semua peralatan-peralatan kecantikan yang ia pakai, mulai sabun, shampoo, lotion, masker yang jumlahnya banyaaaak banget.
Selain itu, film ini juga menyinggung tentang hubungan sosial. Bagaimana ‘recognition’ oleh para peer2 itu sangatlah penting. Patrick Bateman sebenarnya tidak perlu lagi bekerja toh ayahnya adalah pemilik perusahaan. Tetapi alasannya bekerja adalah untuk ‘fit-in’. Lalu salah satu hal yang disinggung film ini adalah identitas. Selain masalah mengenai identitas asli Patrick Bateman, dalam film ini sering terjadi adanya salah mengira. Atau pun berpura-pura menjadi orang lain. Patrick Bateman sendiri selain berpura-pura menjadi seorang ‘baik’, sering disalahkirakan oleh rekan kerjanya, Paul Allen ataupun pengacaranya, mostly karena orang-orang disekitarnya terlihat identik, mulai dari style sampai kerjaan. See? Sindiran lagi.
SPOILERS AHEAD, BEWARE Film ini diakhiri dengan sebuah konklusi terbuka. Ellis maupun sang penulis naskah sekaligus sutradara, Haron, sendiri tidak pernah menjabarkan apakah sebenarnya semua yang digambarkan oleh Bateman itu adalah benar-benar nyata atau semuanya hanyalah termasuk halusinasi twisted milik Bateman sendiri. Kejanggalan demi kejanggalan yang kita temui di pengujung akhir juga sulit untuk dijadikan jawaban atas semua kegilaan dalam film ini. Misalnya adalah apartemen kosong yang Bateman jadikan tempat mayat kok tiba-tiba jadi bersih dan malah hendak disewakan. Kalo memang ia menghalusinasi semua pembunuhan, terus siapa sebenarnya wanita yang menjual apartemen tersebut, kenapa ia bertingkah aneh dan mengapa catnya masih baru? SPOILERS END.
American Psycho itu film sakit. Jelas bukan untuk siapa saja. Coba kita lihat; adegan bunuh-bunuhan sadis? Ada (walaupun gak ditampilkan terang-terangan). Adegan threesome dan sedikit full frontal nude? Ada. Penyiksaan binatang? Ada juga. Memang tidak separah film-film sejenis, tapi tetap saja film ini masih bisa dibilang ‘sakit’. Tapi ternyata film ini memiliki unsur cerita yang cukup solid, sindiran-sindiran tentang obsesi manusia dengan kesempurnaan, strata, hubungan kita dengan sekitar dan sifat kenarsisan dalam manusia. Dari film ini, Christian Bale menunjukkan performa akting yang luar biasa. Dia seharusnya menang Oscar dari perannya disini. Overall, great film.

Gone with the Wind ( 1939 )

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

    Film ini adalah salah satu film klasik yang menjadi tolak ukur sinema amerika, sebuah epik kesayangan hollywood yang judulnya paling sering ditemukan dalam top list apapun di berbagai movie sites, majalah di seluruh dunia.
Gone with the Wind, merupakan contoh kolaborasi besar yang melibatkan ratusan pekerja yang ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Lusinan crew dan penulis naskah yang digonta ganti, proses pemilihan bintang utama yang begitu menyedot waktu dan biaya besar, konflik perpindahan kursi sutradara  hingga permainan bisnis studio besar jaman itu berhasil dihadapi oleh sang produser, David O’Selznick yang kabarnya mengkomandani proyek film ini dengan tangan besi.

Diangkat dari sebuah novel berjudul sama karangan Margaret Mitchell tahun 1936. Tahun depannya, Mitchell meraih Pulitzer dari satu-satunya novel yang pernah ditulisnya dan tiga tahun setelah rilisnya novel itu, 1939, filmnya dirilis dan menciptakan sejarah. Selznick membeli hak untuk memfilmkan novelnya sebesar $50,000 atas dorongan teman temannya. Studio besar waktu itu semacam, MGM dan RKO ironisnya sama sekali tidak tertarik membuat GWTW.
Victor Fleming ditunjuk sebagai sutradara menggantikan George Cukor, yang kabarnya dipecat Selznick karena konflik personal. Tahun 1939 adalah puncak keemasan bagi karier Flemming. Filmnya yang lain yang dirilis di tahun yang sama, The Wizard of Oz juga menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah sinema amerika.
Dalam jajaran pemain utama, Clark Gable yang saat itu merupakan anak emas hollywood mengisi peran Rhett Butler . Proses Selznick mendapatkan Clark Gable dari tangan MGM ( studio yang menaugi sang aktor ) pun tidak lah mudah, berbagai negosiasi alot pun dilakukan Selznick kepada para petinggi MGM. Untuk peran Scarlett O’Harra sendiri, Selznick turun tangan langsung mengaudisi ribuan aktris wanita secara random hingga akhirnya memangkas nya menjadi dua antara Paulette Goddard dan Vivian Leigh.

Film ini lebih mengisahkan konflik (dan cinta) antara empat karakter sentral, Rhett Buttler (Clark Gable), Scarlett O’Hara (Viven Leigh),Melanie Hamilton (Olivia DeHaviiland), Ashley Wilkes (Leslie Howard),  dengan latar Tara, Atlanta dan daerah selatan di masa sebelum dan sesudah perang sipil yang berkecamuk di amerika antara tahun 1861–1865.
Scarlett adalah sosok wanita cantik yang digambarkan manja, egois, sinis dan agak liar. Scarlett sebenarnya bisa saja mendapatkan lelaki manapun saat itu, tapi ia lebih memilih untuk mengejar ngejar ( dan agak mempermalukan dirinya sendiri ) Ashley Wilkes, yang pada saat itu merupakan tunangan sepupunya, Melanie Hamilton. Nah, di tengah konflik cinta segitiga itu muncullah pria yang terusir dari kampung halamannya dan merupakan veteran perang, Rhett Butler. hehe..yang pernah menonton GWTW pasti hafal dengan senyuman maut Rhett Butler yang ditujukan kepada Scarlett pertama kali dari bawah tangga, seolah olah senyumannya sanggup merobek pakaian Scarlett.

Jika diperhatikan, Scarlett dan Rhett sebenarnya hampir memiliki sifat yang sama. Scarlett bukanlah wanita polos yang berhati baik, tapi lebih ke suka mempermainkan hati para lelaki dan mempermainkan nafsu seksual mereka dengan kecantikannya ( termasuk hati para lelaki berpasangan ). Rhett sendiri terkenal arrogan, sombong, egois, kurang ajar dan suka bersikap masa bodoh, dan juga seorang jutawan dan penakluk wanita. Karisma dan pesona Rhett berhadapan dengan gairah dan kecantikan Scarlett menjadikan mereka sangat pantas berhadapan satu sama lain, mereka sama sama mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan jenis.

Selain 2 dari 4 karakter sentral di film ini, Ashley Wilkes, yang dari awal dikejar kejar oleh Scarlett, juga sebenarnya bukanlah Lelaki sempurna , ia bukanlah prince charming yang bijak dan tentunya ia masih seorang pria yang digambarkan masih berkeinginan selingkuh tapi masih belum yakin dan kesetiaannya terhadap sang istri sekaligus sepupunya, Melanie masih terlalu kuat baginya untuk disia siakan. Sedangkan Melanie sendiri, merupakan kebalikan dari Scarlett, ia tergambarkan sebagai gadis yang rapuh, lemah, polos, bodoh dan terlihat sok baik ( walau sebenarnya ia memang baik ), mungkin kepolosan dan sikapnya yang plin plan lah yang membuatnya terlihat bodoh.
Ashley mungkin saja pada awalnya jatuh hati kepada Melanie karena hal ini, dan kebalikan juga terhadap banyak pria yang terpesona dengan gairah dan kecantikan Scarlett, well.., mungkin kecuali Rhett yang sering mengucapkan kata kata menusuk dan menyinggung perasaan Scarlett. Di mata Rhett, Scarlett adalah wanita yang sangat menarik untuk dikencani, tapi tidak untuk dinikahi.

Berkecamuk perang sipil di seantereo amerika, kekalahan terjadi bagi Tara, Atlanta, Tara hanya damai untuk sementara. Tanah yang awalnya subur sekarang merah membara dan tandus, dan perlu dikerjakan dari nol untuk membuatnya kembali subur yang merupakan mata pencarian sebagian besar penduduk Tara. Tara tidak pernah sama lagi.
Di tengah kondisi sulit itu, Menikahnya Scarlett dan Rhett Butler, bukan merupakan hal yang diidam idamkan siapapun, dan tentu tidak menyelesaikan masalah apapun yang sedang menimpa keduanya. Rhett dengan kepribadiannya yang egois hanya menginginkan keturunan dan kesenangan dari Scarlett, begitu juga Scarlett yang hanya tertarik dengan uang dan kekayaan Rhett.
Scarlett  menunjukkan sebuah perubahan besar dalam dirinya dari awal film, pertengahan, hingg akhir. Yang awalnya membenci perang sebagaimana wanita lainnya, keadaan memaksanya menjadi tegar menerima kenyataan hidup dan rela bekerja kasar. Ya tentu bukan alasan sentimentil, dia hanya tak ingin hidup miskin lagi.

Film ini memenangkan 8 dari 13 nominasi oscar saat itu, termasuk Best Picture 1939. Kerja keras David O’Selznick untuk film ini terbayar tuntas dengan berjaya nya film ini baik secara kualitas maupun komersil. Ceritanya yang realistis ikut memberikan pesona bagi film in i. Ini bukanlah sebuah dongeng cinta yang penuh khayalan. Jajaran aktor dan aktris di film ini yang terlihat sangat jujur dalam aktingnya, Chemistry antara Rhett dan Scarlett  (yang seharusnya menjadi jualan utama di sebuah film romantis), juga bukan Chemistry terkuat on screen yang pernah ada. Untuk menghindari kesalah pahaman seperti itu, perlu kita ketahui, film ini bukanlah sebuah film komedi romantis sepenuhnya, film ini sudah jauh keatas meninggalkan genre sederhana seperti komedi romantis.

Kisah epik ini terlalu sederhana jika dijelaskan melaui resensi singkat. Durasi film yang sebanyak 238 menit ( hampir 4 jam.!!) yang diangkat dari novel setebal 1.037 halaman ini bahkan jika dibahas secara mendetail akan butuh berhari hari. Kompleksitas cerita dan karakter, latar perang sipil yang berkecamuk saat itu, belum lagi perubahan ke 4 karakter sentral tersebut sepanjang film dan kondisi keadaan sekitar yang digambarkan dengan detail, padat dan bermakna. Berbeda saya melihatnya dengan film film sekarang yang banyak memakan durasi dengan banyak adegan kosong melompong. Salah satu yang menjadi kecintaan saya terhadap film klasik adalah cara penceritaannya yang begitu detail dan padat walau dengan durasi yang tidak terlalu lama, tapi setelah selesai menyaksikan nya, saya mendapat sebuah kepuasan besar dari segala sisi.

Bertahun tahun mendatang, Film ini akan selalu menjadi salah satu contoh bukti kebesaran sinema amerika dan betapa nyata terciptanya mahakarya dari tangan ratusan pekerja di sebuah era dimana keterbatasan teknologi tidak pernah menjadi hambatan untuk menciptakan sebuah karya seni yang luar biasa. Layaknya waktu yang terus berjalan, everything Gone with the wind, all right – gone, but never forgotten.

Segera dapatkan Film Lama, Film Jadul, Film Langka, Film Lawas, Film Klasik Favorit anda…!!!

***********************************
Sumber: http://mecail2012.blogspot.com/2012/09/review-gone-with-wind-1939.html

The Accused (1988)

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Mungkin seorang Tom Topor sebagai penulis cerita tertarik ketika menilik fenomena di atas, sehingga nasib naas yang dia ciptakan untuk karakter Sarah begitu molek bercerita. Malam itu, Sarah Tobias keluar dari sebuah bar dengan teriakan histeris, langkah kakinya dilarikan sekuat tenaga, sementara baju yang dikenakannya tampak robek compang camping sehingga memamerkan buah dadanya. Naas bagi Sarah, dirinya diperkosa oleh tiga pemuda di bar itu dan lucunya lagi orang-orang yang menyaksikan adegan pemerkosan itu malah menyoraki dan membiarkan peristiwa itu terjadi, bak tontonan film porno gratis bagi mereka. Tak ada yang membantu Sarah yang lemah digauli di atas meja permainan poker itu.

Alkisah pun bergulir kedalam semangat Sarah yang ingin menuntut keadilan. Maka Katherine (Kelly McGillis) selaku jaksa penuntut umum dalam kasusnya berusaha mewujudkan keinginan Sarah tersebut. Tentunya itu tak semulus yang dibayangkan, banyak konflik internal maupun eksternal mengacaukan jalan Katharine dan Sarah. Katharine tertampar oleh kasus Sarah yang tak pelak menguji kredibilitasnya sebagai jaksa dan menguak sisi emosionalnya untuk peduli kepada sosok Sarah. Sementara Sarah hidup dalam situasi psikologis yang kompleks pasca pemerkosaan naas itu, dirinya seakan kehilangan identitas. Disinilah kedua karakter ini menjalin kekuatan emosional yang mampu merasuki visualisasi penonton.

Sang sutradara, Jonathan Kaplan seringkali mengantarkan kita ke sisi lain plot yang dianggapnya mampu untuk sedikit membuka rasa penasaran kita akan kasus Sarah. Rasanya itu tak begitu berhasil, Karena drama pemerkosaan ini tak mampu sedikit pun meluncurkan sisi misteriusnya. Malah cenderung kurang jenius dan pengeksekusian akhir cerita yang sangat klise. Tengok bagaimana cerita dibuat bimbang dengan beberapa kesaksian yang kadangkala memenangkan Sarah ataupun turut menyudutkan tingkah lakunya dalam tragedi pemerkosaaanya itu. Letupan-letupan misteri seakan dipaksakan yang berujung tak mampu untuk memaksimalkan klimaks cerita. Beberapa bukti yang sudah dipegang rapat di mulut  Sarah dari awal cerita sengaja dicari-cari kelemahannya sehingga kebenaran pun sengaja diperlambat sampai pada akhirnya dibeberkan secara visualisasi flashback di hadapan pengadilan. Setidaknya Kaplan sukses membawa para aktornya merasuk kedalam plot-plot yang kian problematik dan emosional.

Namun, beruntunglah The Accused memiliki Jodie Foster dan Kelly McGillis yang gigih dalam menonjolkan karakter mereka masing-masing. Untuk penonton generasi kini mungkin tak doyan menyaksikan film jadul ini kalo tidak ada sosok Jodie Foster yang memberikan magnet maha-dahsyat pada karakter Sarah Tobias. Sebuah patung Oscar mengganjar peforma Foster yang begitu brilian mengeksplor sisi emosional seorang wanita yang terjebak dalam drama pemerkosaan biadab. Begitu biadab karena dirinya digilir oleh tiga lelaki sementara pengunjung bar di sekitarnya sibuk menyemangati para lelaki pemerkosa itu untuk menunjukkan ‘keperkasaan’ mereka. Di sisi lain, karakter Sarah ini juga memberikan imej sebagai gadis ‘gampangan’ yang kerap mengisap ganja, ahli meneguk berbotol-botol bir, serta si seksi yang bernasib sial. Disinilah penonton diajak untuk memilih antara acuh tak acuh atau prihatin dengan kejadian Sarah tersebut. Anda pun dapat dengan mudah menerka bakal dikemanakan ending film ini.

Anda Mencari Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Lawas, Film Klasik…??
Silahkan Pesan Film Favorit Anda Sekarang juga…!!!

The Shawshank Redemption (1994)

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Film Lama, Film Langka, Film Jadul, Film Klasik, Film Lawas

Di tahun 1947, seorang bankir bernama  Andy Dufresne dituduh membunuh istri dan kekasih istrinya. Walau Andy sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan pembunuhan itu, namun berdasarkan bukti-bukti yang ada, Andy dihukum dan dipenjara di Shawsank. Di Shawsank Andy berkenalan dan selanjutnya berteman akrab dengan Ellis “Red” Redding. Red memliki kemampuan untuk menyelundupkan barang-barang yang diperlukan oleh para tahanan. Untuk Andy, Red berhasil menyelundupkan palu kecil yang dipakai Andy untuk hobinya membuat buah catur. Selain itu Red juga memberikan poster-poster bintang film wanita bagi Andy.

Andy bekerja di bagian binatu penjara. Selama di penjara Andy selalu mendapat siksaan dari gang “The Sisters” penguasa di Shawshank. Gang The Sisters dipimpin oleh seorang narapidana bernama Bogs.
Di tahun 1949, saat bersama beberapa teman tahanannya yang lain ditugaskan untuk melapisi bagian atas atap salah satu gedung penjara, Andy  mendengar caci maki dari kepala penjaga tahanan yang kejam Byron Hadley tentang pajak yang dia harus bayar atas warisan yang didapatnya dari saudaranya yang baru meninggal. Atas bujukan Andy, Baron bersedia dibantu untuk secara legal terbebas dari pajak atas warisan yan diperolehnya. Andy hanya meminta beberapa bir dingin sebagai imbalan bantuannya itu.

Andy beberapa waktu kemudian lagi-lagi disiksa oleh Bogs pemimpin gang The Sisters. Siksaan ini menyebabkan Andy hampir meninggal dan dimasukkan ke rumah sakit. Bogs sendiri harus menjalani hukuman selama 2 minggu di ruang hukuman khusus. Setelah selesai menjalani hukuman, Bogs kembali ke selnya dan telah ditunggu oleh Byron yang tidak senang atas perbuatannya terhadap Andy.

Setelah kembali dari rumah sakit, Andy dipertemukan dengan Warden Samuel Norton kepala penjara Shawshank. Warden kemudian memindahkan Andy ke bagian perpustakaan penjara untuk membantu seorang narapidana tua bernama Brokks Hatlen, dengan tujuan agar Andy dapat juga melakukan pembukuan keuangan penjara. Kemampuannya dalam keuangan dan pajak, membuat Andy sering dikunjungi para penjaga tahanan  di Shawshank dan lingkungan sekitar penjara.

Andy kemudian mulai menulis surat setiap ke pemerintah setempat yang isinya meminta bantuan tambahan buku untuk perpustakaan di Shawshank.

Tahun 1954, Brooks tahanan tua yang bertugas di perpustakaan bersama Andy, akhirnya dibebaskan setelah menjalani masa tahanan selama 50 tahun. Setelah dibebaskan Brooks akhirnya bunuh diri karena tidak tahan hidup di luar penjara.

Surat-surat permohonan yang dikirm Andy ke pemerintah daerah akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah daerah mengirimkan sumbangan buku-buku untuk perpusatakaan di Shawshank. Selain kiriman berupa buku ternyata dikrim juga sumbangan berupa rekaman musik di atas piringan hitam. Andy memutar salah satu musik rekaman kesenangannya dan menyiarkannya melalui sistem pengeras suara di Shawshank. Tindakannya ini membuat Andy dihukum.

Setelah dihukum Andy berbicara dengan Red dan menerangkan bahwa Andy selalu memiliki harapan dan harapannya akan selalu ada dan tidak akan hilang karena penjara di Shawshank, namun Red mengabaikan pernyataan Andy itu.

Tahun 1963, Norton sang kepala penjara memanfaatkan tenaga para tahanan untuk pekerjaan di luar penjara. Norton mendapat keuntungan dari pemotongan gaji pekerja dan mendapat komisi juga dari penyedia pekerjaan. Andy ditugaskan untuk ‘mencuci’ uang itu dengan menggunakan nama Randal Stephens.
Tahun 1965, Tommy Williams yang dipenjara karena pencurian, menjadi akrab dan berteman Andy dan Red. Andy  sangat membantu Red dalam mempersiapkan dirinya menghadapi ujian setara SMA. Tahun 1966 setelah mendengar secara rinci tentang kasus Andy, Tommy merasa kasus Andy  sangat mirip dengan cerita seorang narapidana yang pernah menjadi teman sekamarnya di penjara lain, yang mengaku pernah membunuh seorang lelaki dengan teman selingkuhnya, yang merupakan seorang istri dari seorang bankir, dan bankir tersebut akhirnya yang dihukum karena kejadian itu. Andy kemudian mendiskusikan informasi ini ke Norton dengan harapan Norton bisa membantunya agar bisa dilakukan pengadilan ulang untuk kasusnya. Namun Norton tanggapan sangat diluar dugaan Andy. Andy malah mendapat hukuman karena kekecewaan yang diungkapkannya.

Setelah selesai dari hukuman Andy bercerita pada Red tentang harapan Andy untuk hidup dan tinggal di Zihuatanejo sebuah kota di Mexico yang memiliki pantai menghadap ke laitan Pasific. Bagi Red, harapan Andy tidak mungkin akan terjadi. Namun Andy berpesan saat Red bebas nanti jangan lupa untuk mengambil paket untuk Red di sebuah padang rumput dekat kota Buxton.

Esok harinya, tempat tahanan Andy sudah kosong. Andy berhasil melarikan diri dengan membawa seluruh catatan pencucian uang yang dilakukan Norton. Penjaga tahanan melakukan pencarian, namun di saat yang sama Andy berpura-pura menjadi Randall Stephens mendatangi beberapa bank dan menarik uang yang sudah dicuci tersebut. Kemudian, Andy mengirim laporan keuangan dan rincian transaksi puncucian uang dan bukti-bukti korupsi serta pembunuhan yang telah dilakukan Norton ke koran setempat. Polisi segera ke penjara Shawsank untuk menangkap pihak-pihak yang terkait atas bukti dari Andy.

Red akhirnya di bebaskan setelah menjalani masa tahanan selama 50 tahun. Red mulai mencoba untuk beradaptasi dengan kehidupan diluar rumah tahanan. Namun hal ini ternyata sangata sulit dan menimbulkan tekanan baginya, karena selama ini Red menjalani 50 tahun dari hidupnya di dalam penjara.

Red teringat akan pesan Andy sebelum Andy melarikan diri. Merasa frustrasi karena belum juga bisa beradaptasi dengan lingkungan di luar penjara, Red  memutuskan untuk mencari kemungkinan akan adanya paket khusus untuknya di tempat yang diceritakan Andy dulu.

Kisah di film ini sangat menggugah perasaan anda. Bagaimana seseorang yang tidak punya harapan namun berani berharap. Di tempat seperti ini, beranikah kita berharap ?

Mau tau persis cerita filmnya…? Pesan Sekarang Juga…!!!

Dapatkan Film Lama, Film Langka, Film Klasik, Film Lawas, Film Jadul, Sekarang juga…!!!

 

Source: http://www.sinopsisfilm.com/2013/01/the-shawshank-redemption-1994.html

DVD Film Lama, Film Langka, Film Klasik, Film Jadul, Film Lawas

Lawrence of Arabia (1962)

 

Lawrence of Arabia

Lawrence of Arabia adalah film epik tahun 1962, berdasarkan pada kehidupan T.E. Lawrence. Dibintangi oleh Peter O’Toole sebagai aktor utama, bersama dengan Omar Sharif dan Alec Guinness.

Film Gandhi (1982) mengikuti pola cerita Lawrence: setelah tokoh utamanya meninggal di awal, cerita ini mengalir dengan alur mundur.

Lawrence of Arabia memenangkan 7 Academy Award, salah satunya untuk Gambar Terbaik.

Dianggap sebagai salah satu film terbesar yang pernah dibuat, film ini masuk daftar 100 Years… 100 Movies dari AFI (urutan 5).

Director’s Cut film ini, mengalir 216 menit, tak memiliki tokoh wanita yang berbicara.

Pusat Film Lama-Film Jadul-Film Langka

Welcome to MAESTRO

starline_e0

Jual Film Lama, Film Klasik, Film Jadul, Film Lawas, Film Kuno, Film Unik, Film Langka yg TIDAK BEREDAR LAGI…

Ada Puluhan ribu judul film mulai dari tahun 1900an s/d Era 2000-an

Film Asia, Film Barat, Film Latin, Film Spanyol, Film Perancis, Film Jerman, Film Itali, dll.. All Genre…

Kualitas Oke… Dijamin Tidak Macet-macet.. Garansi…

Semua Film Format DVD, jadi DIJAMIN bisa diputar pada semua DVD player, termasuk DVD ROM LAPTOP & PC…

==> Untuk Film Satuan: 1 Film = 1 DVD (Bukan Gabungan)

==> Untuk Film Serial: 1 DVD = Beberapa Episode

starline_e0

Minimal order 5.3

starline_e0

***PENGIRIMAN KE SELURUH INDONESIA VIA JNE/TIKI***

LogoTIKI-JNE

======

Bukti resi Label Maestro

blink2_e0

 

Baca Info Sebelum Order 4

 ===

Daftar Harga

 

Baca Info Sebelum Order 4

green_line_e0

***PEMESANAN: MAESTRO FILM***

Contoh Format Order by SMS/BBM/WhatsApp:

1. Ayam (1980), 2. Bebek (1945), 3. Cecak (1965), dst…

Dari: Maestro, Mampang – Jaksel

===============================================

* Tanya2x via SMS dipastikan TIDAK DIBALAS, gunakan call/WA/BBM/Email

** Order kurang dari 5Film/Disc DIPASTIKAN TIDAK DILAYANI

*** Order wajib mencantumkan nama kota + nama kecamatan tujuan pengiriman

Call/SMS : 021 – 914 22 146 / 0815 8428 6783

PIN : 29ed71a7 ; WhatsApp : 0815 8428 6783

email : maestro_film@yahoo.com

starline_e0

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 931 other followers